Menjadi Pelajar Kreatif Berbasis Kekayaan Intelektual

Menjadi Pelajar Kreatif Berbasis Kekayaan Intelektual

Cibinong, Humas LIPI. Pelajar sebagai salah satu bagian dari masyarakat merupakan generasi penerus bangsa yang aktif sebagai pengguna dan mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang dengan pesat. Pentingnya kesadaran dan pemahaman kekayaan intelektual sangatlah penting sehingga pelajar dapat mencurahkan ide dalam berkreasi, berkarya, maupun berinovasi untuk menghargai karya intelekual milik orang lain.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-54, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) menyelenggarakan secara virtual webinar bertajuk ‘Menjadi Pelajar Kreatif Berbasis Kekayaan Intelektual’, pada Sabtu (21/8).

Pada sambutannya Yan Rianto, Kepala Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK LIPI mengatakan sudah sejak lama LIPI membina generasi muda dan menularkan semangat untuk berkreasi, menemukan hal-hal baru dan memecahkan persoalan dan masalah di sekitar kita. “Ciri negara maju adalah negara yang memiliki inovasi yang tinggi baik dalam hak cipta, paten dalam berbagai bidang untuk berkiprah dan sumbangsih dalam peradaban dunia, membudayakan bagaimana kita berkreasi dan menciptakan ide baru dalam kesehariannya,” ujarnya.

Sebuah ide, kreasi dan inovasi menjadi bagian yang penting dalam melakukan penelitian. Apa yang terjadi dalam laut kita? Cara yang paling out of the box adalah mencari dan bertanya ke alam terumbu karang dengan menyelam dan kita akan mendapatkan informasi. Banyak yang belum tahu Karang adalah makhluk hidup punya tangan, mulut dan memiliki cerita sejarah laut kita. Peneliti atau inventor mencari cara ketika kita mempunyai masalah dan akan datang dengan solusi, dalam hal ini ada perubahan iklim dan datanya kurang lalu mencari solusi dengan datang ke alam kemudian dibawa ke laboratorium. “Jangan takut untuk mempunyai ide yang aneh awalnya, tetapi ternyata sangat berguna ketika dikompilasi untuk kepentingan dunia dan negosiasi iklim,” ungkap Intan Suci Nurhati, narasumber dari Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Intan menambahkan bahwa invensi harus dipikirkan, dieksplorasi dan melakukan perbaikan. Ada beberapa hal  yang memotivasi kita menjadi inventor yaitu pertama kebutuhan masyarakat menjadi dasar menjadi invensi seperti kebutuhan pokok, menjaga lingkungan hidup, memudahkan perkerjaan. Kedua nilai ekonomis seperti meningkatkan nilai dari bahan lokal yang diketahui secara turun temurun menjadi produk komersial, mengolah sampah menjadi bernilai dan tren pasar global, dan memajukan IPTEK seperti studi karakteristik ilmiah, prototipe dan inovasi produk dan proteksi kekayaan intelektual. Kita harus memprotrksi kekayaan intelektual itu. ”Kalau mau menjadi inventor harus meningkatkan kompetensi kita. Kita harus memiliki banyak mimpi dan ide serta  mencobanya serta mencari ilmu seluas-luasnya,” tegas sang peneliti iklim dan laut yang lulus S3 dalam usia 27 tahun.

Pada kesempatan yang sama Adi Adi Setiya Dwi Grahito, Analis dan Valuator Kekayaan Intelektual PPII menjelaskan bahwa hak cipta yaitu hak ekslusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembetasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (UU No 28/2014) dengan masa perlindungan 50 tahun atau umur pencipta + 70 tahun contohnya fotografi, software, buku, musik, lukisan dll. Selain itu ada yang disebut desain industri kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis dan/atau warna yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri atau kerajinan tangan. “Merek yaitu tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata huruf angka m susunan warna, dalam bentuk 2D dan/atau 3D, suara, hologram atau kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dengan masa perlindungan 10 tahun,” rincinya

Dirinya menyatakan bahwa jenis Kekayaan Intelektual (KI) lainnnya yaitu indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan (UU No 20/2016) masa perlindungan selama reputasi, kualitas, karakteristik produk terjaga.

“Syarat paten ada tiga yaitu pertama baru (novelty) jika pada saat pengajuan permohonan paten invensi tersebut tidak sama dengan teknologi yang diungkapkan sebelumnya atau belum dipublikasikan. Kedua mengandung langkah inventif, jika invensi tersebut merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya bagi seseorang yang memounyai keahlian tertentu di bidang teknik. Ketiga dapat diterapkan dalam industri, jika invensi tersebut dapat diproduksi atau dapat digunakan dalam berbagai jenis industri,” jelas Adi

Pada akhir paparan Adi mengatakan paten adalah hak eksklusif inventor atas invensi di bidang teknologi untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakan invensinya (UU No.13/2016) masa perlindungan 10 tahun paten sederhana dan 20 tahun paten biasa. “Rahasia dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik rahasia dagang (UU No, 30/2000),” pungkasnya.

Potensial sebagai KI di sekolah yaitu sesuatu yang diciptakan sendiri/kelompok, buatan sendiri/kelompok, belum dipublikasikan, dan penting untuk didaftarkan. Pelajar sebagai content creator harus memiliki etika dengan berhati-hati dalam mengungkap invensi sendiri/kelompok, tidak sembarangan berbagi info detail, lindungi data pribadi (KTP, kartu pelajar, kartu keluarga dll), hormati personal content (screen shoot capture chat, izin upload ke sosial media), hormati hak cipta atau paten orang lain, dan tidak menjadi pembajak software. Think before you post!”

“Remaja menjadi point of center pembangunan negara kita, dalam bidang apapun itu baik di bidang sain, olahraga dll. Sejak tahun 1967 LIPI mempunya program pembinaan ilmiah dengan komunitas pendidik” ungkap narasumber selanjitnya, Yutainten yang juga Koordinator Bina Ilmiah LIPI.

Kenapa remaja harus cinta sains? ada beberapa alasannya, LIPI mempunyai fungsi memperkenalkan budaya riset ke masyarakat untuk mempertajam critical thinking remaja, krisis terhadap sesuatu masalah dan belajar untuk sistematis, dan keinginan menjadi seorang superhero karena identik dengan orang yang pintar dan keren. Selain itu dapat menjadi better consumer dalam mengelola informasi yang ada.

Yuta menambahkan bahwa anak-anak muda bisa menjadi agen perubahan dari generasi sebelumnya, di era sekarang orang-orang yang kritis dan vokal adalah orang yang mempunyai peranan lebih dalam memberikan solusi. “Anak muda kita tumbuhkan keinginan untuk bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain salah satunya dengan penggunaan sains,” tegasnya.

Pembinaan ilmiah sejak awal berdirinya LIPI pada tahun 1967 dan akan berfokus terhadap pengembangan riset dan inovasi. “Memiliki potensi SDM sekitar 10.000 peneliti dan LIPI mempunyai karya tulis ilmiah dan kompetisi ilmiah remaja yang bertujuan untuk mengembangkan budaya riset dan etika penelitian,” ujarnya.

LIPI tergabung dalam 11 negara afiliasi pembinaan anak muda dengan 53.500 remaja terbimbing, 94 medali, 16 awards, 6000 abstrak dan proposal penelitian dan sekitar 80-100 peneliti dan 25-30 satuang kerja terlibat di pembinaan ilmiah. Berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan para stakeholder merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan kegiatan pembinaan ilmiah ini karena semua program pembinaan ilmiah tidak akan berhasil tanpa kolaborasi dan sinergi dari para pendidik dan siswa dengan menjadi volunteer, peserta dan terbuka untuk berbagai kerjasama dan diskusi. “Kita bangun anak-anak muda kita senang sains dan riset,” tutup Yuta. (yt ed sl)