Kiat Sukses Membangun Startup

Kiat Sukses Membangun Startup

Cibinong. Humas LIPI. Beberapa tahun terakhir perkembangan startup di Indonesia cukup signifikan baik itu startup dengan  level unicorn bahkan decacorn lahir di Indonesia untuk tingkat Asia maupun global. “Startup mulai bermunculan di Indonesia tepatnya mungkin beberapa tahun yang lalu. Tetapi kalau dilihat perkembangannya masih sangat kecil dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. Untuk itu kami menghadirkan peneliti,dan praktisi dari Idealab dan PathGen. Harapannya dari webinar ini dapat menjadi  pegangan dan panduan seperti apa startup di Indonesia. Bagaimana cara kolaborasi dengan para inkubator dan juga dengan para peneliti. Serta bagaimana marketnya di pasar Indonesia khususnya dan pasar global umumnya,” kata Ana Harlina Koordinator Inkubasi PPII LIPI pada webinar “Kiat Sukses Membangun Startup”, padaSenin (23/8).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) mengadakan webinar tersebut bertujuanmemberikan informasi kepada masyarakat tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam membangun startup, memberikan informasi tips dan langkah yang tepat dalam mengembangkan startup, memberikan informasi tentang ekosistem startup yang ada di Indonesia dan informasi tentang dukungan pemerintah melalui PPII LIPI dalam mendukung pengembangan startup di Indonesia.

Bukan hal yang mudah menyematkan nilai valuasi tersebut pada sebuah startup. Perlu perencanaan matang dan banyak tantangan yang harus dihadapi oleh sebuah startup hingga akhirnya mendapatkan capaian tersebut.Untuk mendukung perkembangan startup di Indonesia diperlukan ekosistem yang baik agar startup dapat tumbuh dan berkembang. Banyak hal yang harus dilakukan agar Indonesia memiliki ekosistem yang ramah agar startup dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dibutuhkan kerjasama antar berbagai pihak, baik itu pemerintah, akademisi, maupun partisipasi aktif publik. 

 “Pemerintah khususnya PPII LIPI pada kesempatan ini mencoba memberikan gambaran bagi startup Indonesia  bahwa pemerintah saat ini sangat memberikan dukungan bagi startup. Startup di Indonesia masih 4%, dari 4% itu yang berhasil antara 5% – 10%. Perlu kerja lebih keras lagi antara stratup,  pemerintah dan akademisi untuk kolaborasi dalam hal pengembangan startup,” jelas Ana.

“Isu penerapan teknologi telah diamanatkan dalam UU No. 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional IPTEK. Penerapan teknologi saat ini masih banyak yang hanya berupa jurnal yang tidak bisa dikomersialisasikan atau tidak bisa dikembangkan lebih jauh oleh para startup kita,” ujarnya.

Ana menambahkan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi wajib dilaksanakan berbasis pada hasil penelitian pengembangan dan/ atau pengkajian. Tujuannya adalah untuk mendorong inovasi sebagai upaya peningkatan produktivitas pembangunan, kemandirian dan daya saing bangsa. Apabila stratup berkembang di suatu negara banyak sekali dampaknya bagi negara tersebut. Mulai dari pendapatan negara, daya saing bangsa juga ikut terdongkrak. Karena itu penerapan hasil penelitian, pengembangan dan pengkajian  menjadi satu fokus dari pemerintah untuk dapat diterapkan di industri baik industri pemula maupun industri besar.

Dalam pemaparannya Ana menjelaskan “Penerapan Iptek  terdiri dari empat bagian, yaitu Alih Teknologi, Intermediasi Teknologi, Difusi Iptek, dan Komersialisasi Teknologi. Startup bisa menggunakan hasil-hasil penelitian dan pengembangan dan juga pengkajian dari lembaga-lembaga penelitian melalui lisensi, kerjasama maupun pelayanan jasa iptek lainnya. Untuk Intermediasi Teknologi bisa dilaksanakannya dengan melakukan inkubasi teknologi, temu bisnis, kemitraan dan promosi. Namun tidak semua bisa dikerjakan oleh PPII sendiri. Tetapi dengan kolaborasi salah satunya dengan Idealab.”

“Pada Difusi Iptek ada peningkatan kapasitas iptek, peningkatan kapasitas produksi, kesiapan penggunaan teknologi, dan peningkatan kapasitas daya serap penggunaan teknologi. Sedangkan pada tahap Komersialisasi Teknologi, PPII mencoba mengembangkan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) yang berada di Kawasan Cibinong Science Center Botanical Garden (CSC BG). Kawasan CSC BG dikelola oleh PPII LIPI, kawasan ini diharapkan menjadi suatu tempat untuk menumbuhkan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) dan ekosistemnya, melakukan alih teknologi, inkubasi teknologi, temu bisnis, dan komersialisasi teknologi,” terang Ana.

Dirinya menjelaskankan saat ini PPII LIPI memiliki beberapa Program yang dapat dimanfaatkan yaitu Alih Teknologi, Inkubasi Teknologi dan Komersialisasi.  Dalam Alih Teknologi,  banyak sekali paten-paten LIPI yang mungkin bisa digunakan oleh startup untuk pengembangan produk karena satu produk tidak hanya membutuhkan satu teknologi. Tetapi biasanya membutuhkan beberapa teknologi yang saling berkaitan sehingga satu produk bisa benar-benar sempurna atau bisa menjadi suatu solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Untuk Inkubasi Teknologi, PPII juga membina PPBT/ startup melalui beberapa konsultasi dengan peneliti, terkait kolaborasi dengan pihak lain seperti Idealab dan universitas.

“Sampai saat ini Bidang Prioritas yang ada di PPII adalah 4.0 (Produk Digital dan Teknologi Informasi), Pangan Kreatif/Fungsional, Kesehatan dan Obat, dan Industri Biokimia.  Sedangkan Fasilitas yang di berikan oleh PPII kepada startup yaitu laboratorium, fasilitas industri, ruang kerja/ co-working space, dan pendampingan dari peneliti terkait,” pungkas Ana.

Sebagai informasi, webinar ini menghadirkan tiga  orang narasumber lain yaitu  Adityo Wicaksono, S.Ds., M.Bus(Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Inovasi LIPI), Ir. Alexander Ludi Epifanijanto, MBA (Chief of Collaboration UMG Idealab) dan Susanti, Ph.D (CEO PT. PathGen Diagnostik Indonesa). (ew)