Urgensi dan Perlindungan Privasi Data dalam Era Big Data

Urgensi dan Perlindungan Privasi Data dalam Era Big Data

Cibinong. Humas LIPI. Peluang dan tantangan pemanfaatan big data di Indonesia khususnya di era digital dapat dilihat dari berbagai sisi, yakni kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, peluang dan tantangan big data dalam mendukung peningkatan layanan diberbagai sektor, penggunaan big data untuk keamanan data pengguna layanan serta urgensi, dan perlindungan privasi data dalam era big data. Untuk membahas hal-hal itulah sebuah webinar hukum tentang “Big Data: Peluang dan Tantangan Pemanfaatannya di Era Digital” dihelat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada  Kamis (12/8).

Webinar yang dibuka langsung oleh Plh. Kepala LIPI, Agus Haryono tersebut menghadirkan pula  Rifki Sadikin, Peneliti LIPI yang menyampaikan materi berjudul “Urgensi dan Perlindungan Privasi Data di Era Big Data.” Rifky yang juga Koordinator Pelaksana Laboratorium Riset melihat tanggung jawab pengguna dapat dilihat dari tanggung jawab pengembang bagaimana membuat aplikasi yang bersumber dari big data bisa dipercaya. Menjadi isu ketika kita lihat banyak kebocoran data. Hal ini kembali lagi kepada pengembang harus memiliki sistem keamanan data sehingga data terjamin,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan bahwa data privasi sebenarnya adalah aspek servis dari keamanan. Bagaimana data diproses secara benar, disimpan secara benar dan terkait dengan privasi ataupun hak individu. “Terutama data yang tidak ingin dibagi atau tidak ingin diungkapkan. Contohnya data rekam medis. Servis keamananmemproteksi dari akses yang tidak berwenang terutama data digital. Hal ini yang perlu diperhatikan ketika kita “menitipkan” data ke sebuah aplikasi,” tegas Rifki.

“Dari sisi teknologi pengguna semakin terkoneksi antara satu sama lain. Bahkan benda-benda pun nanti terkoneksi data teknologi internet office. Tanpa kita sadari jika kita sering memakai suatu aplikasi, data kita dikumpulkan oleh penyedia servis seperti e-commerce  dan kita akan mendapat  iklan yang menarik sesuai dengan perilaku kita. Harusnya ada pemberitahuan dari penyedia aplikasi bahwa data-data tersebut dikumpulkan.  Semakin banyak data yang dikumpulkan dari kita akan membuat sebuah aplikasi menjadi bermanfaat,” tutur Rifki.

“Disebut Artificial Intelligence (AI) jika kita tidak bisa membedakan antara orang atau mesin. AI dapat membuka peluang baru dan meningkatkan kualitas hidup. Namun AI juga harus memiliki standar, disebut dengan AI yang bisa dipercaya yaitu – Lawful: memenuhi aturan hukum – Etis: memenuhi nilai-nilai dan prinsip etika – Robust: secara teknis maupun lingkungan sosial,” ungkap Rifki.

Rifki menambahkan kasus di LIPI bisa menjadi pelajaran karena kita punya email tetapi alamat email dan password bisa ditetapkan dengan mudah. Sehingga menjadi tempat spam dan sebagainya. “Ketika kita membuat suatu sistem harus diperhatikan password jangan sampai defold atau sama dengan usename, atau mudah ditebak. Hal-hal ini menjadi penyebab kebocoran data,” terangnya.

“Untuk melakukan keamanan harus menyediakan layanan security service,  otentikasi, otorisasi mengakses data jangan sampai data bersifat publish.  Misalnya kita taruh data di internet aplikasi web simpeg jika kita googling data keluar berarti pengembang belum melakukan otorisasi. Kita harus hati-hati di jaringan publik karena banyak orang yang mau ambil data. Perangkat-perangkat yang tidak diupdate juga bisa menjadi sumber masalah termasuk sistem operasi,” imbuh Rifki

“Untuk riset big data AI atau riset kemanan data, LIPI memiliki High Performance Computing (HPC) bersifat terbuka, untuk peneliti LIPI bisa langsung dan untuk ekternal bisa mengajukan proposal terlebih dahulu. Untuk lebih jelasnya bisa langsung mengujungi  hpc.lipi.go.id atau elsa.lipi.go.id.   Penekanan saya masalah privasi harus eksplisit menjadi tanggung jawab developernya,”pungkas Rifki mengakhiri paparannya.

Sebagai informasi, webinar juga menghadirkan tiga orang narasumber lain yaitu Bambang Dwi Anggono, S.Sos., M.Eng., CEH (Direktur Layanan Aplikasi Informatika Pemerintahan Kementerian Komunikasi dan Informatika)  yang memaparkan “Kebijakan dan Keamanan Pemanfaatan Big Data di Indonesia”; Bagus Rully Muttaqien (Head of Corporate Communications  PT Dua Empat Tujuh/Solusi247) yang menyajikan materi berjudul “Peluang dan Tantangan Pemanfaatan Big Data di Era Digital”; dan Ghifari Daulagiri (Head of Trust and Safety at Bukalapak) dengan bahan paparan berjudul “Penggunaan Big Data Untuk Keamanan Pengguna e-Commerce”. (ew ed sl)