Memahami Teknik Pendekatan Valuasi Paten melalui Workshop Valuasi Teknologi

Memahami Teknik Pendekatan Valuasi Paten melalui Workshop Valuasi Teknologi


Irene Muflikh Nadhiroh, M.Si
IP Valuator dan Subkoordinator Valuasi dan Analisis Teknologi PPII LIPI

Cibinong, Humas LIPI. Pembelajaran kepada peneliti atau penilai teknologi yang akan mengomersialkan hasil penelitian dan pengembangan berupa kekayaan intelektual melalui lisensi kepada pihak lain menjadi hal krusial karena akan menentukan nilai wajar sebuah teknologi yang dihasilkan. Nilai tersebut akan menjadi dasar bagi negosiasi untuk mendapatkan nilai lisensi dan royalti yang akan diterima.

 “Paten yang rumit/hi-tech belum tentu memiliki nilai yang besar, demikian pula sebaliknya dengan paten sederhana. Teknologi sederhana bukan berarti nilainya kecil,  bisa saja memiliki nilai besar karena potensi pasarnya besar,” jelas Irene Muflikh Nadhiroh, IP Valuator dan Subkoordinator Valuasi dan Analisis Teknologi dari Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek (PPII) pada Workshop Valuasi Teknologi yang diselenggarakan Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek (PPII) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada Jum’at (30/7).

Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan para peserta mampu memahami dan melakukan berbagai teknik pendekatan valuasi paten dengan cost based approach, market based approach dan income based approach untuk keperluan pencatatan aset tak berwujud maupun lisensi, mampu memahami faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam valuasi,  mampu memahami market analysis untuk analisis kuantitatif valuasi, mampu memahami risk analysis dan memasukkan faktor risiko dalam penghitungan valuasi.

Workshop berlangsung selama dua hari sejak Kamis – Jumat (29-30/7) secara tatap layar diikuti peserta dari Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi PLN, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Pertamina. Narasumber IP Valuator lainnya yang hadir adalah Adi Ankafia, Soni Chandra Saragih, dan Adi Setiya. Agar materi workshop dapat lebih mudah dipahami maka penyelenggara menggunakan metode pelatihan pemaparan materi, studi kasus, diskusi kelompok, presentasi kelompok, diskusi panel dan kuis.

Valuasi merupakan proses identifikasi dan pengukuran keuntungan dan risiko dari suatu intangible asset. Valuasi juga digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Valuasi dapat digunakan untuk semua jenis Kekayaan Intelektual, tidak hanya paten.

Valuasi teknologi atau paten (technology/patent valuation) merupakan suatu proses identifikasi dan mengukur manfaat (benefit) serta risiko finansial dari teknologi saat ini dan akan datang yang umumnya dikonversi menjadi nilai uang.

Penilaian teknologi/paten dapat digunakan untuk keperluan alih teknologi, perselisihan atau pelanggaran KI, penentuan harga jual, perpajakan, akuntansi keuangan, manajemen internal, merger & akuisisi, dan agunan untuk pinjaman (jika kebijakan mendukung).

Peserta “Advanced Technology Valuation Workshop”

Para ahli ekonomi, finansial, di bidang terkait paten, teknologi dan KI sudah banyak mengembangkan metode valuasi teknologi/paten. Untuk melakukan valuasi teknologi/paten dan menjadi dasar dalam pengembangan berbagai teknik valuasi teknologi/paten terdapat tiga metode yang paling populer yaitu valuasi berbasis biaya (cost-based approach), metode ini hanya melihat biaya apa yang sudah dikeluarkan ketika kita mengembangkan teknologi tersebut atau paten tersebut dan tidak bisa memberikan gambaran nilai ekonomi dari sebuah teknologi atau paten valuasi berbasis pasar (market based approach), pasar menentukan harga yang akurat yang menunjukkan nilai dari suatu KI dan valuasi berbasis pendapatan (income-based approach).

“Tidak ada patokan benar atau salah untuk sebuah valuasi. Satu teknologi bisa dilisensi oleh beberapa perusahaan valuasinyapun dilakukan setiap akan dilakukan negosiasi lisensi,” jelas Irene menambahkan.

Menurut Adi Setiya pada kesempatan yang sama,” Paten itu cost center, apalagi ketika sudah granted salah satu solusinya adalah dikomersilkan atau kalau tidak kita lepaskan, itulah fungsinya valuasi.”

Sampai saat ini Indonesia belum memiliki kebijakan yang mengatur secara detil mengenai teknik penilaian teknologi/paten metode atau pendekatan yang digunakan, manfaat penilaian paten, dan lain-lain. (ew ed sl)