Solusi Peningkatan Produktivitas UMKM di Masa Pandemi

Solusi Peningkatan Produktivitas UMKM di Masa Pandemi

Cibinong. Humas LIPI. Sering kita bertanya-tanya tentang UMKM, termasuk usaha kita masuk skala apa? Skala mikro, kecil, menengah atau besar. Dalam UU No. 20, 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah disebutkan posisi usaha menengah dengan modal 500 juta-10 milyar dengan penghasilan lebih 2,5 miliar-50 miliar. Banyak juga UMKM dengan modal yang minim masuknya di usaha mikro. “Kami dari LIPI mencoba untuk memfasilitasi usaha UMKM ini sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya semakin meningkat pada masa pandemi. Hal ini disebabkan beberapa UMKM mengeluhkan akibat pandemi, penjualannya berkurang, produksi menurun terkait bahan, baik bahan baku maupun fasilitas yang dimiliki dan perijinan,” ungkap Ana Harlina, Koordinator Inkubasi Teknologi Pusat Pemanfaatan Inovasi dan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPII LIPI) dalam acara Solusi Peningkatan Produktivitas UMKM pada Masa Pandemi melalui Digital Marketing, pada Senin (05/7).

Dirinya mengatakan, UMKM ini adalah si kecil yang berperan besar karena presentasi kontribusi terhadap PDB hampir 93% sedangkan dari usaha besar sekitar 2-3 % terhadap penyumbang PDB pertahun. Kemudian menyerap tenaga kerja 97% dari tenaga kerja nasional. “Meskipun UMKM kecil tapi mempunyai peran yang sangat besar. Yang di PPII LIPI sendiri sudah beberapa banyak yang ekspor produk, jualan secara web, online, dan sering mengikuti pameran. Hal-hal tersebut dapat di sharing kepada UMKM-UMKM yang belum mempunyai  pengalaman untuk jualan secara online, jualan ekspor,” tutur Ana.

Ana menjelaskan produktivitas adalah kata kunci sumberdaya, efektif dan efisien. “Bagaimana  UMKM dapat menggunakan sumberdaya yang kita miliki secara efektif dan efisisen?  Fungsinya apa? Fungsinya untuk dapat bersaing dan berkompetisi dengan produk-produk serupa, dengan jenis usaha yang serupa, kompetisi nya dalam hal penentuan harga pokok produksi yang akan menentukan berapa harga produk bapak/ibu tawarkan, apakah wort it harga tersebut dilapangan  kemurahan atau kemahalan. Dari segi produktifitas kita dapat menentukan target pasar, kualitas barang, segmen mana, harga produksi, margin berapa banyak dari harga produksi tersebut,” jelasnya.

“Efektif dan efisien sering kita dengar. Efektivitas adalah mencapai suatu target bagaimana caranya. Efisien yaitu menghemat sumberdaya  yang kita miliki. Output nya target kemudian  inputnya sumber daya yang kita miliki.  UMKM harus mengetahui sumberdaya yang kita miliki. Mengukur produktivitas, output dibagi input jadi berapa persen produktivitas, contohnya untuk menghasilkan produk 100 unit menggunakan input 125, berapa persen produktivitasnya. Apakah dengan output yang sama input lebih sedikit atau menambah input tetapi, menghasilkan output yang dua kali lipat, kita sebut produktivitas,“ rincinya.

Ana memaparkan, tujuan pengukuran produktivitas, pertama untuk menambah efisien sumberdaya contohnya  sumberdaya yang kita miliki dapat kita gunakan sebesar-besarnya untuk menghasilkan output yang sebesar-besarnya. Kedua, perencanaan yang lebih efektif dan efisien. Ketiga, mengetahui nilai tambah produk. Keempat, Menekan biaya produksi, untuk dapat bersaing di pasar.

“Produktivitas dengan marketing saling berkaitan karena produktivitas bapak/ibu sudah diterima pasar tapi bagaimana cara marketing, menyampaikan produk kepada masyarakat yaitu konsumen. Harapannya, kami dari Tim Inkubasi konsen membantu para UMKM ini untuk bisa berjualan secara digital marketing yang sekarang ini wajib, karena dengan pandemik sekarang, PPKM banyak sekali konsumen yang tidak bisa keluar rumah atau malah memilih untuk tinggal di rumah daripada belanja secara langsung,”ungkapnya

Ana menjelaskan, bagaimana cara menjual produk? “Kita harus memiliki strategi, salah satunya selain produktivitas, sisi produksi dan bagaimana cara memasarkan produk kepada masyarakat. Strategi yaitu kita harus tahu bagaimana operasi, siapa kompetitor, saingan kita, produk-produk serupa, apa kelebihan dari produk-produk tersebut, kekurangan produk kita dan apa kelebihan produk kita. Hal tersebut harus disadari UMKM itu sangat penting mengenal diri sendiri dan produk. Kita juga harus memiliki strategi  pemasaran, contohnya awalnya jualan buka warung, door to door sekarang sepi, namun sekarang pesanan melalui whatsapp, makanan siap saji bisa daftar melalui Go food, Shopee food dan Grab food,” jelasnya

“Target market, awalnya kita harus memiliki produk, tempat serta bersaing harga dan promosi. Dalam marketing 4 P dengan adanya perkembangan produk menjadi 7 P yaitu proses, people, promotion, phisical evidence dll. Era sekarang ini tidak cukup dengan 7 P tetapi tambah 2 P adalah partnership dan Photography.  Dengan perkembangan zaman ini  membutuhkan partnership ada  marker plan seperti tokko, photography.   Photography sangat penting dari sisi visual, produk kita jual harus bisa kita tampillkan untuk memanjakan mata konsumen,” papar Ana.

Di akhir acara, Ana mengungkapkan digital marketing terhadap UMKM seperti web design, SEO, SEM, email marketing, sosial media, konten, aplikasi development. “Kami sampaikan kepada UMKM selama ini seperti sosial media harus mengenalkan sebuah produk, sudah kami lakukan beberapa kali dengan para UMKM dan startup di LIPI. Ana berharap mudah-mudahan UMKM lebih baik lagi, ” tutupnya.

Hadir sebagai narasumber lainnya adalah Juan Jonathan yang merupakan founder Jepret Produk, dan Fadly Fattah, seorang Business Development Tokko. Acara dipandu oleh Nugraha Ramadhany, Sub Koordinator Inkubasi Teknologi PPII LIPI. (shf ed sl)

.