Perlindungan Kekayaan Intelektual Bidang Teknologi Informasi dan Digital

Perlindungan Kekayaan Intelektual Bidang Teknologi Informasi dan Digital

Cibinong, Humas LIPI. Seperti kita ketahui bahwa digital saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan bisnis. Dengan begitu cepatnya perubahan teknologi baru ini maka akan muncul tantangan dalam menangani proses kekayaan intelektual. Bagaimana proses perlindungan inovasi baru yang telah dihasilkan? Jenis kekayaan apa yang cocok untuk melindungi inovasi baru tersebut? Apa ancaman terhadap intelektual yang dimiliki?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas tuntas dalam acara Series Webinar Kekayaan Intelektual: Menggali Perlindungan Kekayaan Intelektual Bidang Teknologi Informasi dan Digital, yang dihelat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalu Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Iptek, pada Senin (14/6).

Pada sesi pertama, Irwan Budhi Iswanto, Inteleqtual Property Analyst dari PPII-LIPI membahas mengenai apa yang bisa dilindungi terkait bidang teknologi informasi. Mengutip dari WIPO, kekayaan intektual (KI) merujuk pada buah pikir dari pemikiran manusia dimana bisa berupa invensi, literasi atau hasil seni bisa berupa desain, nama dan image.

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak bersentuhan dengan KI, sehingga penting untuk tahu mengenai pentingnya perlindungan KI. Bagaimana peranan penting dari KI itu sendiri akan diketahui setelah dilakukan proses identifikasi. Apakah ada KI yang perlu dilindungi? Apakah ada profit atau benefit dari KI yang kita hasilkan? Maka dari itu perlu dilakukan tahapan dari perlindungan KI.

Lebih mendalam lagi, Irwan membahas mengenai potensi perlindungan khusunya bidang IT dan digital. “Bagaimana potensi yang cocok untuk bidang IT dan digital? Saya sampaikan bahwa potensi perlindungan KI dibidang IT dan digital kemungkinan besar masuk dalam ranah paten, hak cipta, DTLST atau desain industri,” tutur irwan.

Definisi dalam Undang-undang 13 Tahun 2016 tentang Paten, paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor atas invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu melaksanakan sendiri invensi tersebut atau memberi persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Yang perlu digarisbawahi untuk pembahasan mengenai potensi paten pada sebuah KI adalah lingkupnya yaitu di bidang teknologi, sehingga diluar bidang tersebut tidak bisa dimasukkan kedalam paten. Lalu apakah software-related invention dan computer implemented invention dapat masuk ke dalam paten? “Pada 3 tahun terakhir, LIPI sudah mendaftarkan software-related invention (paten software) dan ternyata sudah ada beberapa software yang granted. Artinya dimungkinkan kita mempatenkan software,” terang irwan.

Perlu diketahui sebelum melangkah kepada penggalian potensi KI sebagai paten adalah bunyi dari pasal 4 Undang-undang Paten dimana invensi tidak mencakup aturan dan metode yang berisi program komputer. Yang dimaksud poin pasal tersebut adalah program komputer yang hanya berisi program tanpa memiliki karakter, efek teknik dan penyelesaian permasalahan namun apabila program komputer tersebut memiliki karakter (instruksi-instruksi) yang memiliki efek teknis dan fungsi untuk menghasilkan penyelesaian masalah baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible) merupakan invensi yang dapat diberi paten.

Adapun contoh invensi yang dapat diberi paten dari segi algoritma, yaitu whatsApp LCC dengan metode pengiriman rekaman audio, dan LIPI dengan metode identifikasi asal/jenis hewan dalam produk makanan berdaging.

Untuk KI hak cipta, yang menjadi objek hak cipta dari bidang IT dan digital adalah program komputer. Adapun KI dari objek tersebut yang dapat dilindungi dengan hak cipta harus memiliki originalitas, line code, tidak memiliki karakter atau efek teknis.

Desain tata letak sirkuit terpadu merupakan salah satu perlindungan KI yang bisa digunakan pada bidang IT untuk kreasi berupa rancangan peletakan tiga dimensi dari berbagai elemen, sekurang-kurangnya satu dari elemen tersebut adalah elemen aktif, serta sebagian atau semua interkoneksi dalam suatu sirkuit terpadu dan peletakan tiga dimensi tersebut dimaksudkan untuk persiapan pembuatan sirkuit terpadu.

Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri atau kerajinan tangan. Di beberapa Negara dapat melindungi graphical user interface karena memiliki suatu estetika dengan tujuan bisa meng-engage customer, menyediakan tata letak yang menyenangkan mata dan mempengaruhi perilaku pengguna.

Pada sesi kedua, Prio Adhi Ramdhani tampil untuk memaparkan perlindungan paten untuk perangkat lunak. Pada umumnya perlindungan KI untuk perangkat lunak adalah dalam bentuk hak cipta. Dan bagaimana jika ingin bentuknya berupa paten? Lalu apa yang dapat dipatenkan dari perangkat lunak? Contoh perusahaan dibidang software yang memiliki banyak paten adalah Microsoft sebanyak 135.828 paten, Facebook sebanyak 32.156 paten, Whatsapp sebanyak 352 paten. “Bisa kita bayangkan perusahaan software ternyata bisa memiliki paten yang sangat banyak, berarti dengan begitu sangat terbuka kesempatan bagi peneliti dan dosen yang bekerja di bidang software algoritma dapat memiliki banyak paten,” terang Prio.

Adapun objek yang dapat dipatenkan dari perangkat lunak yang pertama adalah metode/algoritmanya yang dimulai dari start sampai end, sampai ada solusi. Yang kedua adalah sistem dimana ditempatkannya suatu metode, yang di dalamnya terdapat server, komputer, smart phone dan platform lain yang saling terhubung menjadi suatu sistem. Yang ketiga adalah alat yang berhubungan dengan perangkat lunak. (sw ed sl)