Potensi Indikasi Geografis dalam Mendukung Daya Saing Produk Indonesia

Potensi Indikasi Geografis dalam Mendukung Daya Saing Produk Indonesia

Cibinong, Humas LIPI. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikenal sebagai negara mega biodiversitas dan mega kultur. Hal ini menjadi alasan utama mengapa biodiversitas atau keanekaragaman hayati dan budaya Indonesia adalah aset jangka panjang yang perlu terus dipelajari, dikaji, dan diteliti untuk kesejahteraan bangsa serta dilindungi hak Indikasi Geografis. Indikasi Geografis (selanjutnya disebut IG) merupakan suatu istilah geografis yang berkaitan dengan sebuah produk yang menunjukkan tempat atau daerah asal dan mutu produk yang berasal dari karakter geografis.

Keberagaman dan kondisi sumber daya manusia, serta political will pimpinan daerah yang berbeda membawa pengaruh terhadap eksistensi produk daerah dapat dilindungi IG. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan otonom, Pemda perlu menciptakan inovasi dan kreatifitas dalam meningkatkan sumber pembiayaan, dengan menggali dan memberdayakan berbagai potensi daerah yang ada demi mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Salah satunya yaitu dengan mengoptimalkan hak ekonomi dari IG yang ada di suatu daerah.

Hak atas IG adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemegang hak IG yang terdaftar, selama reputasi, kualitas, dan karakteristik yang menjadi dasar diberikannya pelindungan atas IG tersebut masih ada. Dalam konsep pemerintahan otonomi daerah maka daerah harus memiliki perangkat hukum sendiri yang memadai dan otonom.

Perlindungan hukum terhadap hak IG merupakan salah satu kekhususan yang termasuk bagian dari tanggung jawab daerah yang otonom. Oleh karena itu, Pemda perlu menentukan kebijakan dalam rangka memberikan jaminan perlindungan akan hak IG yang ada di daerahnya, sebagai bentuk kepedulian terhadap kekayaan daerah tersebut.

Untuk memberikan inforamsi IG dan infomasi success story dari produk IG, Pusat Pemanfaatan Inovasi dan IPTEK (PPII) LIPI menyelenggarakan webinar yang  membahas mengenai “Potensi IG dalam Mendukung Daya Saing Produk Indonesia” pada Jum’at (28/5) secara online dengan mengundang narasumber Prio Adi Ramadhani, S.T (PPII, LIPI), . Miranda Risang Ayu, S.H., LL.M. (Universitas Padjajaran), Ahmad Nabris (Owner Pabrik Pengolahan Lada Putih Muntok) dan Drs. Hari Widodo, MA (Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan).

“IG secara makna adalah suatu tanda yang menunjukkan asal suatu daerah barang atau produk yang faktor lingkungan geografisnya seperti faktor alam, manusia atau kombinasi keduanya yang memberikan reputasi, kualitas dan karakteristik tertentu pada barang atau produk. IG diatur dalam UU No 20 tahun 2016. Contoh produk IG yang sudah lama terdaftar dan sampai sekarang masih terus bertahan yaitu Beras Pandan Wangi Cianjur. Kualitasnya terjaga dan dicari orang banyak bahkan produknya tidak dapat memenuhi permintaan pasar tetapi produksinya terbatas. Karena batas-batas wilayah yang diperkenankan untuk menanam Beras Pandan Wangi Cianjur harus ditanam di ketinggian 450 – 800 mdpl dan wajib di daerah Cianjur. Ada batas tertentu di wilayah geografis tertentu sehingga ciri khas dan karakteristiknya harus seperti itu dan akan berbeda jika ditanam di daerah lain, “ jelas Prio mengawali pemaparannya.

“Produk IG di Indonesia berhak mencantumkan logo IG, saat mendaftarkan IG pengusul juga mengusulkan logo IG. Gunanya, ketika suatu produk mencantumkan logo IG maka dia punya suatu tanda yang memperlihatkan kualitas, asli  dan berhak menggunakan logo. Jika ada produk-produk lain yang tidak terdaftar IG tetapi menggunakan logo maka akan dikenakan sangsi. Logo ini di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No 29 Tahun 2013. Tujuannya menjadi identitas visual produk IG Indonesia untuk menjamin keaslian, kualitas, karakteristik produk serta mendorong masyarakat menjaga dan melindungi dan memanfaatkan secara ekonomi di wilayah tertentu di Indonesia. Jika ada produk yang nakal menggunakan produk ini masyarakat berhak menggugatnya. Setiap kemasan produk IG wajib mencantumkan produk logo IG Indonesia. Wajib diletakkan di pojok kiri pada kemasan produk dan media promosi lainnya dengan ukuran yang disesuaikan,”ujar Prio.

“Logo IG nasional berupa bunga teratai hidup di tiga alam, yaitu tanah, air dan udara. Daun dan bunganya keluar. Tangkai berasal dari rimpang yang berbeda yang berada dalam lumpur pada dasar kolam atau rawa yang memiliki makna alam Indonesia berada antara dua benua dua samudra serta dua musim yang menghasilkan keanekaragaman hayati yang merupakan sumber produk IG. Ada lima pasang mahkota bunga teratai yang melambangkan lima dasar negara yaitu Pancasila. Fungsinya sebagai alat komunikasi visual untuk memberikan informasi kepada masyarakat, stake holder bahwa produk dengan logo IG maka mengandung banyak informasi. Selain itu ada kesan artistik, memperkuat nilai keterkenalan, sehingga membuat produk bernilai premium. Termasuk intangible asset dapat dikenali dengan jelas namun bukan berupa uang dan bukan berupa benda secara fisik tetapi dapat dijadikan sarana untuk mendapatkan manfaat secara berkelanjutan ke depan,” kata Prio.

Prio pun menyampaikan bahwa proses untuk mendaftarkan IG cukup panjang, perlu verifikasi, analisis yang tidak singkat. Untuk pemeriksaan administrasi perlu waktu selama 14 hari.  Jika telah terpenuhi maka diajukan permohonan kepada tim ahli IG paling lambat dalam waktu dua tahun. Bila permohonan sudah memenuhi ketentuan substantif maka tim akan mengajukan ke DJKI agar didaftarkan dalam daftar umum IG. Artinya layak tersertifikasi. DJKI dalam waktu paling lama 30 hari akan mengumumkan informasi terkait dalam berita resmi diumumkan selama 3 bulan. Setelah masa pengumuman selesai akan dikeluarkan sertifikat IG.

Contoh dari luar negeri yaitu champagne atau Sampanye, yang ternyata nama suatu daerah di luar negeri. Jika anggurnya ditanam dan dibuat di sana maka kualitas sama dengan champagne. Tapi kalau tidak, mungkin dari segi rasa atau kualitas mungkin ada kemiripan tapi daerah lain tidak mempunyai hak yang sama untuk menamakan produk winenya sebagai champagne.

“Sistem perlindungan IG seperti KI yang lain yaitu berdasarkan pendaftaran kecuali hak cipta. IG bersifat komunal didaftarkan secara komunal. Contoh masyarakat pencinta kopi bersama-sama mendaftarkan IG nya. Masa perlindungannya sangat lama bahkan bisa selama-lamanya selama ciri dan kualitasnya masih ada dan tetap dipertahankan dari waktu ke waktu. Ketika ciri dan kualitasnya suatu saat hilang dan tidak bisa dipertahankan maka hak IG akan langsung dibatalkan,” tutur Prio

“Objek apa sajakah yang bisa dilindungi dengan IG ini?  Tentu saja yang pertama sumberdaya alam. Selain sumberdaya alam ada barang kerajinan tangan, Indonesia memiliki industri kreatif yang baik. Kerajinan tangan itu menarik pariwisata mancanegara. Untuk mengetahui di Indonesia produk-produk yang sudah didaftarkan IG nya bisa mengunjungi basis data Indonesia di pdki-indonesia.dgip.go.id. yang dikelola oleh Dirjen KI Kemenkum HAM RI,” terang Prio.

Dirinyapun menambahkan kalau kita tidak peduli dengan IG kekayaan Indonesia bisa di klaim atau dikuras habis oleh orang di luar yang sudah paham IG. Indonesia baru reaktif setelah dicuri atau diklaim. Semoga dengan adanya IG atau webinar ini semakin membuka cakrawala kita bahwa IG ini penting salah satunya dapat membantu masyarakat agar mereka mendapatkan hasil dari alam tidak cuma dengan cara konvensional. Tetapi kita juga harus punya legalitasnya atau legal standingnya. Artinya kalau kita mendaftarkan IG maka kita akan memiliki legal standing bahwa produk ini adalah produk IG yang terdaftar dan memiliki kekuatan hukum.

Kemudian Prio mengutarakan ada beberapa manfaat perlindungan hukum IG yaitu pertama memperjelas identifikasi produk misal Beras Pandan Wangi Cianjur. Putih, wangi pandan, dan pulen. Kedua menghindari praktek persaingan curang,  kalau ada tanda IG maka orang lain tidak berhak dan jika ingin menggunakan logo IG harus bergabung dengan komunitas. Ketiga IG dapat menjamin kualitas produk, keempat produsen-produsen lokal bisa dibina oleh negara atau civitas peneliti untuk membina produsen lokal agar produksi semakin baik dari sisi jumlah dan dari segi ekonominya. Kelima reputasi kawasan, kadang Pemda ingin kawasannya jadi terkenal secara nasional salah satunya dengan IG. Contoh kopi Kintamani Bali, beras Cianjur, kopi Gayo kawasannya ikut terbawa dan terangkat.

Di bagian terakhir Prio menyampaikan peran lembaga riset dalam IG terutama dalam sisi untuk mengidentifikasi potensi-potensinya. “Kita bisa membantu inventirasi, dengan mendatangai litbang-litbang di daerah untuk bergerak bersama-sama menginventarisasi potensi-potensi KI komunal yang ada di daerah di Indonesia. Setelah itu kita klasifikasi dan dianalisa kelayakannya. Analisa kelayakan membutuhkan waktu lama dan keahlian tertentu. Setelah analisa keluar bisa kita dampingi dan kita beri rekomendasi kepada daerah-daerah, atau bisa sekaligus dibuat valuasi teknologinya. Tidak lupa pula kita dampingi dari sisi sosio kultural untuk mengantisipasi jika ada penolakan-penolakan. Kemudian bentuk tim ahli yang memiliki keahlian melakukan penilaian dalam dokumen deskripsi IG menjelaskan detail apa yang ingin diajukan sebagai IG dan untuk memberikan pertimbangan rekomendasi kepada menteri apakah produk ini akan didaftarkan atau dibatalkan dan berfungsi untuk membina. Anggota tim IG dapat terdiri dari perwakilan menteri, perwakilan kementerian, perwakilan instansi atau lembaga yang berwenang untuk melakukan pengawasan, ahli yang kompeten. Jumlah tim 15 orang dengan masa tugas selama lima tahun . Hal ini diatur dalam UU No. 20 Tahun 2016,” pungkas Prio. (ew)