BIOPELET, ENERGI ALTERNATIF UNTUK UKM

BIOPELET, ENERGI ALTERNATIF UNTUK UKM

Cibinong, Humas LIPI. Biopelet merupakan bahan bakar yang terbuat dari limbah biomassa yang dapat menggantikan briket batu bara kualitas sedang. Biopelet mampu menghasilkan  kalori (panas) yang tinggi dan ramah lingkungan sehingga dapat digunakan  untuk skala rumah tangga dan industri kecil  hingga  menengah, pembangkit listrik kapasitas kecil dan menengah.

Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti pabrik kerupuk, keripik, tahu, dan makanan ringan lainnya memiliki peranan besar dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Untuk menggerakkan roda usaha, umumnya UKM menggunakan bahan bakar wood pellet. Mereka menggunakan bahan bakar alternatif ini karena lebih murah dibandingkan menggunakan bahan bakar gas bahkan bisa efisiensi berkisar antara 30 – 40 persen dan lebih mudah digunakan. “ Saat ini, bahan bakar yang biasa digunakan oleh home industri adalah gas, kayu bakar, tempurung kelapa dan batu bara. Namun harga gas cukup tinggi, penggunaan kayu bakar maupun tempurung kelapa menghasilkan asap yang menyebabkan polusi udara, sedangkan penggunaan batu bara meninggalkan limbah B3 yang dapat mencemari lingkungan,” ujar Lisman Suryanegara peneliti Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Wood pellet atau pelet kayu mulai dikembangkan sejak lima dekade terakhir untuk mengatasi krisis bahan bakar fosil. Potensi pemanfaatan limbah biomassa di Indonesia cukup banyak jumlahnya seperti limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan. Namun bahan bakar ini memiliki kelemahan terkait dengan ketersediaannya yang sangat terbatas sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan industri. Karena itu diperlukan sumber bahan baku alternatif untuk mengatasi masalah ini.

Lisman pun berusaha untuk mencari alternatif sumber biomassa yaitu ampas kopi dan serbuk kayu. Kelebihan dari biopelet serbuk kayu dan ampas kopi ramah lingkungan, minim emisi, serta lebih ekonomis. Percobaan proses produksi telah dilakukan mulai tahun 2016 dan telah dilakukan uji pasar diantaranya kepada beberapa industri kerupuk di wilayah Cibinong. Produsen kerupuk yang telah mencoba produk biopelet ini mengatakan bahwa terdapat selisih efisiensi sebesar 25% lebih ekonomis jika menggunakan biopelet dibanding menggunakan bahan bakar lain, sedangkan dari segi emisi saat pembakaran biopelet tidak menghasilkan asap mengepul sehingga proses produksi menjadi lebih bersih. Efisiensi dan dampak positif dari penggunaan biopelet membuat peluang pasar cukup terbuka sehingga biopelet dipandang memiliki harapan keberlangsungan usaha yang besar.

Lisman menjelaskan, proses pembuatan biopelet ini cukup sederhana. Dimulai dengan mengeringkan ampas kopi menggunakan pengering putar sampai kering. Setelah itu dimasukkan dalam pelletiser atau alat pembuat pelet yang secara otomatis mengubah serbuk kopi dan atau serbuk kayu menjadi pelet.

Selama ini ampas kopi sudah banyak dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, pakan ternak ataupun biogas. Namun setelah diketahui ampas kopi memiliki nilai kalor yang tinggi maka ampas kopi dapat dimanfaatkan pula menjadi biopelet,. Dari hasil uji yang telah dilakukan menunjukkan bahwa biopelet ampas kopi ini memiliki nilai kalor 5.000 -5.100 kal/gr atau setara dengan kualitas batubara energi rendah. Sedangkan wood pellet memiliki nilai kalor 4.100 kal/gr.

Potensi penggunaan biopelet sebagai pengganti gas atau kayu bakar sangat terbuka. Namun masih terdapat kendala yang dihadapi sampai saat ini mengenai sosialisasi dan alih teknologi yang masih kurang terkait pembuatan biopelet dan kompornya.

Lisman telah berhasil memformulasikan takaran bubuk kopi dan serbuk kayu dalam beberapa nilai sehingga menemukan perbandingan yang efektif dan efisien. Formulasi ini telah mendapatkan sertifikasi paten pada tahun 2020 dengan nomor paten IDP000062907. (ew ed sl)