Pengalaman Penyintas Covid di Lingkungan PPII LIPI: Bermula dari Acara Keluarga Besar

Pengalaman Penyintas Covid di Lingkungan PPII LIPI: Bermula dari Acara Keluarga Besar

Cibinong, Humas LIPI. Setelah satu tahun berjalannya masa pandemi, LIPI tetap melakukan pekerjaan dengan ritme yang tinggi dan dengan penerapan kebijakan yang telah ditetapkan dalam Perka LIPI no 135 tentang pengaturan sistem kerja pegawai dalam kebiasaan baru, juga keputusan Kepala LIPI no 182 tentang pelaksanaan perjalanan dinas ditengah pandemi atau adaptasi kebiasan baru. Salah satu yang tertuang dalam Perka tersebut adalah mengenai pengurangan jumlah pegawai yang hadir di kantor yaitu maksimal 20% dan selebihnya melakukan pekerjaan di rumah atau Work From Home (WFH). Kebijakan ini dibuat tentunya dalam rangka upaya mitigasi agar mengurangi kemungkinan penularan covid antar sesama pegawai saat bekerja di lingkungan LIPI ataupun melakukan kegiatan kedinasan lainnya.

Meskipun berbagai upaya mitigasi telah dilakukan dengan baik, tidak dipungkiri banyaknya pegawai LIPI yang terkonfirmasi covid 19. Satgas Covid LIPI yang diketuai oleh Kepala Biro Umum-LIPI, Driszal Fryantoni, telah melakukan pendataan bagi sivitas yang terkonfirmasi Covid 19. Sampai tanggal 12 Maret 2021 tercatat sebanyak 107 orang terkonfirmasi, 79 orang sembuh, 22 orang dirawat dan 6 orang meninggal.

Pada hari Jumat (12/03), LIPI melakukan webinar yang bertajuk LIPI Town Hall Meeting “Menghadapi Covid-19 Bersama Keluarga”. Berbeda dengan webinar-webinar sebelumnya, pada kesempatan ini LIPI menghadirkan narasumber para pegawai LIPI penyintas Covid-19. Diharapkan dari sesi berbagi yang dilakukan para penyintas Covid-19 ini menjadi suatu pembelajaran, tidak hanya dalam mencegah penularan, juga dalam menyikapi saat seseorang mengalami infeksi Covid-19. Pembelajaran ini akan berarti khususnya bagi seluruh pegawai LIPI dan bagi masyarakat pada umumnya.

Salah satu narasumber, Arief Rachmat, seorang penyintas Covid-19 dari Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) LIPI turut hadir membagikan pengalamannya dalam menghadapi Covid-19 bersama keluarga. Arief menceritakan bagaimana awal mula dirinya dan keluarganya hingga terkonfirmasi Covid 19, dan apa saja perjuangan yang dilalui dalam melawan penyakit  ini. “Saya meyakini bahwa awal mula tertular Covid 19 saat saya dan keluarga menghadiri acara keluarga besar di awal bulan Januari 2021,” kisahnya.

Arief yang bertugas di PPII Kawasan Bandung, sempat masuk kantor setelah merasakan gejala yang tidak biasa pada tubuhnya. Dirinya yang merasakan demam, kemudian mengajukan ijin untuk pulang sebelum waktunya dan melakukan pengobatan secara mandiri. Beberapa hari berlalu, Arief yang tidak merasakan kondisi tubuhnya membaik memeriksakan diri ke dokter dan meminta dirujuk untuk pemeriksaan laboratorium. Hasil test PCR menunjukan Arief terkonfirmasi positif Covid-19, kemudian pihak rumah sakit menyarankan Arief untuk isolasi mandiri.

Tiga hari berlalu, Arief merasakan kondisi yang semakin memburuk, kemudian dirinya mendatangi IGD pada salah satu rumah sakit di Bandung dan tidak lama Arief dipindahkan ke ruang isolasi. “Menjelang akhir bulan Januari, saya merasakan nafas semakin berat. Kemudian saya diberi bantuan oksigen dan dipindahkan ke ruang ICU,” tuturnya.

Mendengar kabar kakak Arief yang lebih dahulu merasakan gejala sakit sebelum acara keluarga besar telah meninggal, Arief merasa semakin khawatir dengan kondisinya yang tak kunjung membaik. Arief hanya bisa pasrah dan terus berdoa. Selang beberapa hari, pengukur oksigen yang terpasang pada dirinya menunjukan peningkatan kadar oksigen. “Saya merasa sedikit ada harapan tubuhnya dapat berangsur membaik,” ungkapnya.

Komunikasi dengan keluarga tetap dilakukan meski dalam keterbatasan, dimana Arief tidak bisa secara langsung berkomunikasi dengan telepon genggamnya karena aturan di ruang ICU. Arief menitipkan pesan untuk keluarganya melalui perawat dan begitupun sebaliknya keluarga Ariefpun melakukannya. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Arief dan keluarga adalah pesan yang sifatnya positif dimana satu sama lain mengabarkan kondisi yang baik dan tidak menceritakan kesulitan yang dialami masing-masing. Padahal saat itu, hampir semua anggota keluarga Arief juga terkonfirmasi positif Covid-19 dan melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Hanya tersisa satu orang, yaitu anak pertama saya yang tidak terinfeksi Covid-19 dan sempat kesulitan dalam penyediaan makanan bagi anggota keluarga yang sedang melakukan isolasi mandiri. Ternyata anak saya membagikan kondisi anggota keluarga melalui media sosial, dan tidak diduga banyak pihak yang mengulurkan bantuan,” kenang Arief. Sementara itu, Arief yang menjalani perawatan di ICU mencoba mengalihkan perhatian dan mengisi hari-harinya dengan membaca dan menulis sebuah karya tulis.

Dari cerita yang dibagikan oleh Arief, dapat diambil pelajar bahwa siapapun dapat terinfeksi virus Covid-19 jika kita lengah dan tidak menyadari untuk tetap berusaha menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Sebisa mungkin hindari kerumunan yang berpotensi tersebarnya virus Covid-19. Jika kita merasakan gejala yang menjurus pada infeksi Covid-19, segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan, atau lakukan isolasi mandiri jika belum memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan. Selama dilakukan rangkaian perawatan, upayakan untuk tetap mematuhi pengobatan secara disiplin. Tetap menjalin komunikasi dengan orang-orang sekitar dan saling memotivasi dan memberi dukungan positif. Tidak segan meminta bantuan pada para pihak yang dimungkinakn dapat memberi bantuan. Berusaha fokus pada pikiran positif, karena dari pengalaman para penyintas Covid-19, pikiran positif akan membantu mempercepat pemulihan kesehatan. Dengan begitu diharapkan siapapun yang menghadapi Covid-19 dapat berjuang dan bisa melaluinya sehingga dapat sehat. (sw/ed.sl)