Pupuk Granul: Solusi Pengolahan Sampah, Hama dan Penyakit Tanaman

Pupuk Granul: Solusi Pengolahan Sampah, Hama dan Penyakit Tanaman

Cibinong, Humas LIPI. Sampah masih menjadi permasalahan pelik di Indonesia, terutama di kota-kota besar dengan jumlah penduduk yang padat.  Timbunan sampah semakin hari semakin tinggi seiring dengan penambahan jumlah penduduk. Pemerintah pun terus mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah sampah ini.

Permasalahan sampah tidak hanya secara teknis namun juga secara sosial, ekonomi dan budaya. Masalah utama sampah terutama sampah kota adalah keterbatasan lahan. Acap kali pemerintah kesulitan mencari lahan sebagai tempat pembuangan sementara atau tempat pembuangan akhir. Warga banyak yang menolak karena merasa terganggu dengan dampak yang ditimbulkan seperti bau yang menyengat, ceceran sampah di sepanjang jalan menuju lokasi. Belum lagi teknologi untuk memproses sampah yang tidak ramah lingkungan. Selain itu produk hasil sampingan sampah kota belum dapat dimanfaatkan. Padahal dapat bermanfaat untuk masyarakat dan pemerintah antara lain sebagai pupuk organik.

Pupuk organik bisa menggantikan pupuk kimia yang harganya tinggi terkadang hilang dari pasaran dan yang paling penting adalah jika digunakan dalam jangka panjang dan berlebihan pupuk kimia akan merusak struktur tanah dan merusak ekosistem tanah. Jika hal tersebut dibiarkan tanah bisa mengalami kematian sehingga tidak dapat ditanami.

Beberapa tahun belakangan ini masyarakat mulai menggandrungi makanan organik. Mereka mulai menyadari kalau bahan makanan yang ditanam secara organik lebih sehat dan lebih aman karena tidak meninggalkan sisa pupuk kimia atau pestisida yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Untuk menghasilkan makanan organik tentunya harus menggunakan pupuk organik seperti kompos dan pestisida non kimia pula. Untuk membuat kompos dibutuhkan bahan baku utama berupa sampah organik dalam jumlah yang banyak. Nah, bahan baku sampah organik  ini berasal dari sampah organik perumahan, sampah pasar, kotoran hewan, sampah pertanian yang semuanya sering terabaikan.

Adalah Arief Heru Prianto dan tim peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI berhasil menemukan invensi pupuk granul lebih khususnya yang berbahan baku sampah kota baik dari bahan organik maupun anorganik dan telah mendapatkan sertifikat paten dengan nomor IDP0000069383.

Pada umumnya pupuk granul yang beredar di pasaran memiliki bermacam-macam bentuk seperti curah, granul, cair, pelet, tablet dan briket. Namun bentuk pupuk granul yang lazim ditemukan adalah butiran atau granul. Di pasaran, pupuk ini lebih dikenal dengan sebutan pupuk granul (POG). Pupuk granul umumnya memiliki kepadatan tertentu sehingga tidak mudah diterbangkan angin dan hanyut terbawa air, memudahkan aplikasi di lapangan, cocok digunakan untuk aplikasi pupuk di perkebunan skala besar yang menggunakan aplikator pupuk.

Invensi yang diajukan oleh Arief dan tim ini, tujuannya untuk mengatasi permasalahan seperti ikatan antar unsur mikro kurang kuat sehingga relatif mudah tercuci oleh air mengakibatkan efektivitas jumlah yang diserap oleh tanaman juga berkurang.

Keunggulan invensi ini kandungan unsur hara mikro (N, F dan K) dalam produk lebih mudah terserap oleh tanaman dan ikatan antar unsur mikro lebih kuat dengan penambahan zeolit sehingga tidak mudah tercuci atau hilang dari tanah. Pupuk ini berfungsi untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman sayuran, hias dan padi, meningkatkan ketahanan tanaman, tidak membunuh hama non target, ramah lingkungan dan cocok untuk pertanian organik, hasil pertanian bebas residu, dan mudah diaplikasikan.

Semoga dengan invensi pupuk granul ini dapat memberikan manfaat dan menjadi solusi permasalahan masyarakat dalam penanganan sampah dan hama sehingga kita dapat  engkonsumsi makanan yang sehat bebas kimia. (ew ed yl, sl)