ANGKAK PENURUN HIPERTENSI

ANGKAK PENURUN HIPERTENSI

Cibinong. Humas LIPI. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi (tekanan darah tinggi). Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.

Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Kerusakan organ akibat komplikasi hipertensi tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan lambatnya pengobatan.

Salah satu cara untuk mengatasi hipertensi yaitu dengan pengobatan secara herbal. Angkak merupakan obat herbal alami yang menjadi solusi dalam penyakit hiptertensi.

Angkak atau beras ragi merah adalah produk beras yang difermentasi menggunakan jamur bernama Monascus purpureus. Angkak telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dan digunakan sebagai obat tradisional, pewarna makanan maupun minuman di dataran Cina.

Ada segudang manfaat angkak bagi kesehatan yang sebaiknya kita ketahui. Selain sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi demam berdarah manfaat angkak lainnya  untuk menurunkan hipertensi.

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat dan menjadi salah satu pintu masuk atau faktor risiko penyakit seperti jantung, gagal ginjal, diabetes, stroke.

Menurut WHO, tekanan darah normal bagi orang dewasa adalah 120/80 mmHg. Angka 120 mmHg menunjukkan tekanan sistolik, yaitu tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Sementara angka 80 mmHg menunjukkan tekanan diastolik, yaitu tekanan saat otot jantung relaksasi dan menerima darah yang kembali dari seluruh tubuh.

Saat ini angkak sudah banyak dijual secara bebas dipasaran sebagai produk suplemen meningkatkan kesehatan jantung. Namun, sayangnya selain bermanfaat bagi kesehatan angkak juga memiliki sisi negatif yaitu angkak dapat mengandung kontaminan yang disebut sitrinin yang bersifat racun bagi tubuh terutama organ hati dan ginjal.

Dr. Novik Nurhidayat, seorang peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Cibinong Bogor telah menemukan sebuah invensi untuk mengatasi masalah sitrinin dalam produk beras fermentasi dengan nama monascus. Teknologi dalam produk ini telah mendapatkan sertifikat paten dengan nomor ID paten IDP000049440.

Ekstrak beras Monascus bekerja stabil menghasilkan bahan bioaktif potensial diantaranya adalah lovastatin sebagai bahan penghambat biosintesis kolesterol dan Gamma Amino Butyric Acid (GABA). GABA berperan sebagai neurotransmitter pereduksi stress dan penginduksi katekolamin penurun tekanan darah. Dari hasil uji praklinis dan klinis terbatas menunjukan penurunan signifikan tekanan sistolik dan diastolik.

Secara in vitro, ekstrak beras monascus dapat menghambat aktivitas Angiostensin Converting Enzymes (ACE) yang berperan dalam modulasi pembuluh darah mengarah ke kondisi hipertensi.

Produk ini direkomendasikan untuk pencegahan dan terapi penyakit hipertensi dan kardiovaskuler. Produk ini juga dapat menunjang perbaikan kualitas parameter darah setelah induksi inspeksi.

Produk ini merupakan produk alami, teruji praklinis efektif, ekonomis dan yang terpenting aman dan bebas dari bahan beracun sitrinin sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri farmasi, obat tradisional, jamu, dan herbal terstandar industri makanan dan minuman fungsional. (ew ed yl)