Berkarya disaat Pandemi : Eksplorasi Ide Kreatifmu dengan Menghasilkan Karya Digital yang Inovatif

Berkarya disaat Pandemi : Eksplorasi Ide Kreatifmu dengan Menghasilkan Karya Digital yang Inovatif

Sejak diberlakukannya Work From Home (WFH) pada tanggal 16 Maret 2020 identik dengan melakukan pekerjaaan kantor seperti rapat, diskusi, koordinasi dengan rekan kerja dilakukan secara online. Demikian juga yang dilakukan Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPII-LIPI) pada Selasa (19/5) menggelar kegiatan online (webinar) Berkarya disaat Pandemi : Eksplorasi Ide Kreatifmu dengan Menghasilkan Karya Digital yang Inovatif.

Webinar ini mengundang nara sumber Syam Budi Iryanto, Peneliti Pusat Penelitian Informatika LIPI, Adhiguna Bhrahmanta, CEO Imaji Studio dan Adam Ardisasmita, CEO Arsanesia dengan moderator Rika Wulandari, Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK LIPI dan diikuti 750 peserta dari perguruan tinggi, instansi pemerintah, pelajar, pelaku usaha dan masyarakat umum.

Syam menjelaskan bahwa High Performance Computing (HPC) adalah sebuah komputer dengan spek lebih tinggi dengan jumlah banyak yang terhubung dengan jaringan dengan kecepatan tinggi yang dapat menyelesaikan tugas dalam waktu yang sama dengan hasil yang baik.

HPC dapat diakses oleh umum melalui web dan tidak dikenakan biaya selama digunakan untuk tujuan penelitian. Namun sejak 2018 dapat dimanfaatkan untuk kegiatan industri/bisnis. Layanan yang disediakan adalah render farm untuk pembuatan film animasi dan komputasi untuk kegiatan nonpenelitian. Hal ini menjadi salah satu wujud kontribusi nyata LIPI sebagai lembaga ilmu pengetahuan kepada komunitas ilmiah di Indonesia, demikian Syam menambahkan.

Ada beberapa tips yang disampaikan oleh nara sumber untuk menggeluti industri animasi dan industri game. Menurut  Adhiguna “Lebih baik diawali dengan sebagai pekerja atau karyawan. Karena proses belajar industri animasi di sini. Kita akan mengetahui standar kualitas animasi di sini dan waktu yang dibutuhkan untuk mendongkrak kemampuan tidak selama jika kita wirausaha, “tambahnya pula.

“Mendekati perusahan game, mengikuti kegiatan-kegiatan atau pertemuan-pertemuan rutin yang sering yang diadakan oleh pengembang game, atau bisa juga mem”follow”  asosiasi game supaya bisa mendapatkan ilmu secara on line, kata Adam melengkapi.

Selain itu kita juga harus fokus dengan keahlian yang kita miliki agar hasilnya lebih maksimal. Jangan terlalu memikirkan upah yang diterima, atau jam kerja yang dijalani. Karena untuk industri kreatif seperti ini tidak mengenal waktu dan ada istilah kerja bagai kuda.

Satu hal lagi yang penting adalah portofolio. Buatlah portfolio yang bagus. Indeks Prestasi (IP) yang tinggi tidak ada nilainya jika portofolio yang kita miliki tidak bagus. Jika IP kita tidak tinggi namun portfolionya bagus kemungkinan besar akan menjadi perhatian.  Untuk itu kita harus mengembangkan diri terus menerus.

Adam juga berbagi tips menghadapi pandemi Covid-19. Pertama buka mata dan telinga, dengan mencari informasi yang akurat dari Lembaga riset terpercaya agar terhindar dari  hoax. Kedua dengan menyiapkan startegi. Strategi apa yang harus kita lakukan jika pandemi ini akan berdampak sampai 1,5 tahun atau 3 tahun? Tips ketiga adalah strategi apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi new normal. Ini akan menjadi perubahan yang sangat dasyat. Biasanya kita melakukan aktivitas dengan keluar rumah, ke kantor, ke sekolah dan lainnya sekarang semua itu dilakukan menggunakan secara virtual.

Inilah new normal. Kita akan berada di dalam dunia yang mungkin akan sangat minim sentuhan. Acara-acara, kegiatan-kegiatan yang membutuhkan interaksi antar manusia apalagi dalam jumlah yang banyak akan berubah. Hal ini harus kita persiapkan. Di dalam industri games terutama yang digital, dengan remote working masih bisa bertahan, pekerjaan masih bisa dilakukan secara remote. Namun tantangan berikutnya yaitu infrastruktur. Karena untuk bekerja di industri games dan animasi memerlukan internet yang baik. (sti)