SHARING KNOWLEDGE “LEARNING LEADERSHIP” SESI KEDUA PEMIMPIN TIDAK SEKONYONG-KONYONG KODER

SHARING KNOWLEDGE “LEARNING LEADERSHIP” SESI KEDUA PEMIMPIN TIDAK SEKONYONG-KONYONG KODER

Pada bulan lalu tepatnya 15 Maret 2020 Presiden Joko Widodo melalui konferensi pers di Istana Bogor menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Sistem ini dipilih dengan tujuan untuk mencegah penyebaran virus korona tipe baru (SARS-CoV-2) penyebab Covid-19. Bekerja dari rumah akan menjaga jarak sosial yaitu mengurangi pergerakan orang, menjaga jarak fisik, dan mengurangi kerumunan orang. Karena dengan melakukan perjalanan dari rumah ke kantor untuk bertemu dan berdekatan dengan banyak orang akan berpotensi sangat besar terutama yang menggunakan kendaraan umum.


Prio Adi Ramadhani (kanan) sedang presentasi materi “Learning is The Master Skill”

Dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan instansi pemerintah, maka ASN dapat menyesuaikan sistem kerja melalui pelaksanaan tugas kedinasan di rumah/tempat tinggal dan memastikan mencapai sasaran kerja dan memenuhi target kinerja sesuai dengan ketentuan. Dengan adanya kebijakan ini, PPII LIPI melakukan forum rapat online untuk memastikan kegiatan administrasi perkantoran, koordinasi internal organisasi, dan evaluasi pengawasan tetap berjalan. Diantranya adalah kegiatan sharing knowledge tentang leadership dari  e-book James M. Kouzes dan Barry Z. Posner dengan judul “Learning Leadership”.

Kegiatan ini dijadwalkan mulai tanggal 9 April sampai 17 April 2020, pukul 10.00 WIB  sampai selesai dengan dua orang pemateri setiap harinya. Pada hari kedua Senin, 13 April membahas mengenai Learning Is The Master Skill (Bab 5) dan Leadership Emerges From Within (Bab 6) oleh Prio Adi Ramadhani dan pemapar kedua oleh Uus Faizal Firdaussy mengenai You Have To Know What’s Important To You (Bab 7)  dan Who You Are Isn’t Who You Will Be (Bab 8). Dalam pemaparannya Prio Adi Ramadhani menyampaikan bahwa Pemimpin Terbaik Adalah Pembelajar Terbaik. Apakah cara pemimpin belajar mempengaruhi cara mereka memimpin? Dari hasil penelitian diketahui bahwa menjadi pemimpin itu bisa dipelajari dan gaya belajar berkontribusi lebih efektif dalam beberapa praktik kepemimpinan. Meskipun kepemimpinan dapat dipelajari, tidak semua orang ingin mempelajarinya, dan bahkan orang yang belajar kepemimpinan tidak semua menguasainya. Mengapa? Ada banyak alasan, kita mungkin  tidak percaya bahwa kita bisa. Kita mungkin telah termakan mitos yang mengatakan bahwa kepemimpinan itu diwarisi dan hanya sedikit orang yang diberi gen kepemimpinan. Kita mungkin percaya bahwa keterampilan kepemimpinan adalah sesuatu yang dimiliki sejak lahir atau tidak, bahwa itu tetap di dalam diri atau bahwa beberapa orang dapat belajar untuk memimpin, tetapi yang lain tidak. Setiap pemimpin punya keunikan atau originalitas yang lahir dari dalam diri sendiri sehingga tampak oleh orang lain. Bisa dinilai orang lain sehingga penting belajar dulu sehingga gaya kepemimpinan tidak asal-asalan dan orang lain akan yakin bahwa kita bias memimpin.

Dalam melakukan pengembangan diri menjadi seorang pemimpin ada tiga periode yang akan dilalui yakni pertama periode mencari tahu. Pada periode ini kita mengamati apa yang dilakukan oleh para pemimpin terkenal, meminta nasihat dari para mentor, membaca buku dan mendengarkan informasi yang disampaikan oleh eksekutif dan cendekiawan yang berpengalaman, dan berpartisipasi dalam program pelatihan. Kita ingin mempelajari semua yang kita bisa dari orang lain, dan kita sering mencoba meniru gaya mereka. Pada periode ini kita tidak perlu khawatir untuk meniru orang lain. Karena periode ini baru awal dan kita akan menemukan dari waktu ke waktu apa yang cocok untuk kita dan apa yang tidak.

Setelah kita melakukan pencarian di luar sana, kita akan merasakan apa yang telah kita dapatkan selama ini ada yang tidak sesuai dengan diri kita, tidak nyaman jika kita menggunakannya. Hal ini terasa hanya sebagai rutinitas yang membosankan. Kita merasa bukan diri kita sebenarnya, sehingga kita takut nanti akan dikatakan penipu karena kita menggunakan pribadi orang lain. Pada saat inilah kita akan melihat ke dalam diri kita sendiri, melihat apa yang ada di dalam diri kita. Pada saat ini seorang pemimpin melewati masa yang disebut periode penemuan dan akan muncul ekspresi diri kita sebenarnya. Melihat pengalaman dan pemikiran tentang motivasi dan nilai-nilai yang mendasarinya membuat kita sadar bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu di luar diri kita yang dibawa ke dalam. Titik balik dalam perkembangan sebagai seorang pemimpin datang ketika kita dapat menggabungkan pelajaran dari luar dan dalam diri kita. Kepemimpinan yang otentik tidak datang dari luar ke dalam, tetapi datang dari dalam ke luar.

Sivitas PPII mengikuti forum dan diskusi tentang “Learning Leadership”

Dalam melakukan pengembangan diri menjadi seorang pemimpin ada tiga periode yang akan dilalui yakni pertama periode mencari tahu. Pada periode ini kita mengamati apa yang dilakukan oleh para pemimpin terkenal, meminta nasihat dari para mentor, membaca buku dan mendengarkan informasi yang disampaikan oleh eksekutif dan cendekiawan yang berpengalaman, dan berpartisipasi dalam program pelatihan. Kita ingin mempelajari semua yang kita bisa dari orang lain, dan kita sering mencoba meniru gaya mereka. Pada periode ini kita tidak perlu khawatir untuk meniru orang lain. Karena periode ini baru awal dan kita akan menemukan dari waktu ke waktu apa yang cocok untuk kita dan apa yang tidak.

Setelah kita melakukan pencarian di luar sana, kita akan merasakan apa yang telah kita dapatkan selama ini ada yang tidak sesuai dengan diri kita, tidak nyaman jika kita menggunakannya. Hal ini terasa hanya sebagai rutinitas yang membosankan. Kita merasa bukan diri kita sebenarnya, sehingga kita takut nanti akan dikatakan penipu karena kita menggunakan pribadi orang lain. Pada saat inilah kita akan melihat ke dalam diri kita sendiri, melihat apa yang ada di dalam diri kita. Pada saat ini seorang pemimpin melewati masa yang disebut periode penemuan dan akan muncul ekspresi diri kita sebenarnya. Melihat pengalaman dan pemikiran tentang motivasi dan nilai-nilai yang mendasarinya membuat kita sadar bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu di luar diri kita yang dibawa ke dalam. Titik balik dalam perkembangan sebagai seorang pemimpin datang ketika kita dapat menggabungkan pelajaran dari luar dan dalam diri kita. Kepemimpinan yang otentik tidak datang dari luar ke dalam, tetapi datang dari dalam ke luar.

Setelah pemaparan oleh saudara Prio dilanjukan dengan diskusi singkat. Paparan Bab 7 dan 8 disampaikan oleh saudara Uus. Pada bab ini berisi tentang kisah-kisah individu  yang memiliki keyakinan kuat tentang masalah prinsip dan tetap setia pada nilai-nilai yang dipegang teguh. Dari hasil penelitian diketahui bahwa orang-orang yang paling jelas tentang nilai-nilai pribadi mereka, paling bersedia bekerja lama dan keras, paling berkomitmen pada organisasi mereka, dan merasa lebih sedikit stres dengan pekerjaan. Nilai-nilai pribadi yang jelas memungkinkan untuk lebih terlibat, fokus, termotivasi, kreatif, dan berkomitmen untuk pekerjaan. Kita merasa diberdayakan, memiliki inisiatif dan bergerak maju. Orang-orang akan lebih fokus dan positif di tempat kerja mereka ketika mereka bekerja dengan para pemimpin yang tahu apa yang mereka perjuangkan. Salah satu studi paling komprehensif tentang dampak motif berbasis internal (nilai) dilakukan pada 10.000 pemimpin Angkatan Darat AS. Para peneliti melihat apa yang memotivasi individu untuk mendaftar di The Academy. Dari beberapa alasan yang diberikan, dua alasan yang paling menarik yaitu alasan internal dan instrumental. Alasan internal seperti “pengembangan diri pribadi,” “keinginan untuk melayani negara,” dan “pelatihan kepemimpinan” yang akan mereka terima. Sedangkan alasan instrumental seperti “untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” “Reputasi West Point,” dan “untuk dapat menghasilkan lebih banyak uang.” Setelah lulus, para peneliti mempelajari kinerja lulusan akademi sebagai pemimpin di militer selama empat hingga 10 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memimpin terutama dari motivasi berbasis nilai, yang secara inheren internal, mengungguli mereka yang memimpin dengan hasil instrumen tambahan dan penghargaan.

Mereka yang memiliki misi untuk mengubah dunia lebih sukses daripada mereka yang membangun strategi keluar supaya mereka dapat menghasilkan banyak uang. Berpartisipasi dalam aktivitas pengembangan kepemimpinan apa pun secara intrinsik penting bagi kita. Kita akan menjadi pemimpin terbaik sehingga kita dapat membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain perlu menjadi alasan untuk terlibat dalam pendidikan, pelatihan, dan pembinaan. Sebaliknya dengan kebijaksanaan konvensional, berpartisipasi dengan alasan untuk mendapatkan promosi, kenaikan gaji, atau bonus dapat menurunkan efektivitas kita. Pilihlah dengan bijak apa yang kita perjuangkan dan yakini hari ini tidak hanya akan memengaruhi siapa kita hari ini, tetapi juga seberapa baik kita melakukannya besok.

Kejujuran seorang pemimpin merupakan kualitas pertama yang harus dimiliki seorang pemimpin, sedangkan yang kedua adalah kemampuan pemimpin untuk melihat masa depan atau yang biasa disebut dengan visi. Untuk memiliki visi yang baik kita harus memiliki kesadaran yang penuh tentang masa kini, tidak terjebak dengan rutinitas masa kini. Memiliki nilai-nilai ideal yang bisa diciptakan melalui proses belajar. Semangat seorang pemimpin untuk melakukan perubahan berasal dari dalam dirinya sendiri. Orang-orang memilih seorang pemimpin karena memiliki pemikiran yang revolusioner atau mampu melihat masa depan. Perbedaan pemimpin dengan bukan pemimpin adalah pemimpin mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan dengan cara sadar penuh kondisi saat ini, mampu menyerap aspirasi dari lingkungan (st).